Sebuah Coretan Kata
Jumat, 04 Juli 2008
UnderCover
Data jumlah penderita AIDS yang diajukan Riza Mazidu Sholihin (2007) menunjukkan, bahwa jumlah kasus HIV/AIDS di dunia terus meningkat. Menurut data UNAIDS/WHO 2006 AIDS Epidemic Update yang dipublikasikan pada 21 November 2006, diperkirakan 39,5 juta Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Terdapat 4,3 juta infeksi baru pada 2006, 2,8 juta (65 persen) dari jumlah tersebut terjadi di Sub-Sahara Afrika, sedangkan kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara menyumbang angka 860.000 (15 persen).
Catatan terakhir yang dilansir dari Subdit PMS dan AIDS Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan RI pada akhir September 2006, jumlah ODHA di Indonesia telah mencapai 11.604 orang. Secara nasional, kasus kumulatif AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta (2.394 kasus), Jawa Timur (820 kasus), Papua (814 kasus), Jawa Barat (781 kasus), Bali (307 kasus), Kalimantan Barat (228 kasus), Sumatera Utara (192 kasus), Kepulauan Riau (185 kasus), Jawa Tengah (175 kasus), dan Sulawesi Selatan (143 kasus). Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 4,6: 1. Persoalannya, mengapa akselerasi penderita AIDS demikian cepat? Apakah masyarakat kita memang belum paham dan sadar tentang kehadiran AIDS sebagai “mesin” pembunuh utama?
Hubungan antara AIDS dengan dunia abu-abu seperti pelacuran ibarat hubungan sedarah. Dari dunia abu-abu ini, selain negara bisa mendulang keuntungan ekonomi tidak sedikit, juga menuai penyakit mematikan seperti AIDS. Begitu seorang PSK (Pekerja Seks Komersial) terkena AIDS, namun dalam kesehariannya tetap menerima konsumen atau jual jasa seks, maka bisa dipastikan kalau penderita ini telah menjadi factor penyebaran AIDS. Ketika di suatu malam hari penulis melewati Dolly, yang disebut-sebut sebagai kawasan lokalisasi pelacuran terbesar di Asia Tenggara, penulis melihat maraknya bursa seks, yang di dalamnya banyak terlibat anggota masyarakat sebagai konsumennya. Jika konsumen di bursa seks ini, terdapat 20 suami, maka potensi penularan penyakit kelamin seksual menular (PSM) sejumlah itu pula.
Ironisnya, di saat AIDS semakin meningkat dan meluas penyebarannya, praktik pelacuran juga meningkat. Terbukti, salah satu julukan bagi Indonesia yang dari hari ke hari makin dimarakkan pelacuran legal maupun liar adalah “Jatim undercover”, suatu model negeri yang di dalamnya di huni dan dimeriahkan manusia-manusia yang terlibat praktik bisnis esek-esek, baik mulai di pinggir jalan dengan alas koran hingga berkasur empuk di hotel berbintang. Bisnis esek-esek ini dianggap sebagai lahan menguntungkan, yang mudah dan cepat diperolehnya.
“Jatim undercover” adalah cermin riil dari negara yang sedang gagal atau membiarkan bisnis pelacuran merajalela. Di dekat-dekat tempat ibadah, pesantren, sekolah, atau kawasan-kawasan strategis, banyak praktik-praktik pelacuran bisa ditemukan dengan gampang. Bahkan di wilayah yang banyak dikunjungi anak-anak pun bisa bermunculan PSK yang menjajakan cinta. Di Malang misalnya, saat malam hari, wajah kota pelajar ini menampilkan sisi boroknya dalam bentuk maraknya PSK berkeliaran mencari mangsa dengan logat khasnya memanggil pelanggan: mampir Mas!
Di beberapa kafe dan panti pijat eksklusif misalnya, mudah ditemukan perempuan asing yang menyediakan diri untuk dibeli oleh konsumen. Mereka hadir di tengah-tengah komunitas yang mudah didatangi konsumen berkelas atau berduit, yang mudah menghamburkan uangnya dengan cara gampang. Di sisi lain, pemilik kafe dan panti pijat eksklusif, mampu menjadi raja yang kebal dari sentuhan represip aparat. Kalaupun ada aparat yang merazia, umumnya aparat hanya menuai hasil tak maksimal, pasalnya tingkat imunitas pebisnisnya tergolong privilitas.
Demikian hebatnya bisnis esek-esek itupun, dibuktikan dengan status kepemilikan lokalisasi terbesar se Asia Tenggara yang bernama Dolly. Lokalisasi pelacuran di kawasan Surabaya ini dianggap sebagai bagian dari komoditi seks yang keuntungannya menggiurkan, pasar dan pariwisata seksual yang banyak diminati konsumen dalam maupun luar negeri.
Arena prostitusi juga bisa ditemukan di lingkaran kaum terpelajar. Misalnya Iip Wijayanto yang meneliti kasus prostitusi di dunia kampus berjudul “Campus Fresh Chicken, Menelanjangi Praktik Pelacuran Kaum Terpelajar ” (2003) menyebut, bahwa 97, 05% yang kost di Yogya sudah tidak perawan. Apa yang disebut Lip ini juga dari hasil penelitiannya, termasuk kemudian menemukan beberapa mahasiswi yang berprofesi “ayam kampus”. Desakralisasi keperawanan memang tidak identik berprofesi “ayam kampus”, namun runtuhnya ideologi keparawanan yang digeser oleh magnet gaya hidup hedonis dan materialis terbukti punya andil besar membuka kran terjadinya dan menyebarnya bisnis aurat ini.
Iip juga mendapatkan gugatan keras, karena temuannya itu selain belum representatif, juga dianggap akan membawa dampak sosio-psikologis yang besar. Peneliti dan penulis kenamaan Moeamammar Emka di dua bukunya berjudul “Jakarta Undercover 1 dan 2” misalnya juga membenarkan beberapa model pelacuran kelas elit, yang bisa dijadikan sebagai acuan merefleksi perkembangan dunia prostitusi. Misalnya dari kalkulasi ekonomi yang berpijak dari harga kencan dengan wanita panggilan, wanita sewaan, atau wanita-wanita cantik berpenampilan selebriti, dapat diperoleh angka keuntungan yang menakjubkan, yang bisa menggiurkan segmen bisnis manapun.
Dalam kalkulasi Emka itu disebutkan, dalam satu tahun, uang yang beredar di “bisnis kelenjar” itu bisa mencapai Rp.14,952 triliun. Kalau jumlah ini dikorelasikan dengan perkembangan industri seks yang semakin melaju pesat, maka bisa mengalami kenaikan dua atau tiga kali lipat. Ini berarti bukan tidak mustahil, dalam setahun bisnis ini mencapai “omset” senilai Rp. 44.856 Trilyun.. Kalau sudah begitu masalahnya, maka bisnis esek-esek merupakan daya tarik syahwati penjaja cinta maupun oportunis cinta yang gandrung memenuhi kebutuhan biologis secara liar merupakan akar utama terjadinya dan menyebarnya AIDS.
Keuntungan ekonomi yang diraih dengan cara permisif harus dibayar mahal. Kejahatan terhadap moral diikuti pertaruhan atas dampak rapuhnya daya tahan tubuh dan hancurnya hak keberlanjutan hidup. Praktik “onani” moral telah atau sedang menempati superioritas dan kejayaannya. Masyarakat terjerumus menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup yang logis dan bahkan dipuja-pujanya. Mereka bangga bisa menjalani kehidupan bergaya liberalistik yang berelasi dengan konsumerisme dan pemenuhan kebutuhan biologi secara instan.
Penderita AIDS bisa jadi memang tertular dari jarum suntik akibat menyalahgunakan narkoba, akan tetapi penyimpangan dalam berhubungan seks dengan PSK merupakan faktor “istimewa”-nya. Tanpa didahului pola promiskuitas (seks berganti-ganti pasangan, tukar menukar pelanggan, atau menerapkan berbagai gaya, yang kesemuanya ini bertentangan dengan ajaran agama, maka AIDS tak mungkin terjadi dan menyebar ke mana-mana.Di sisi lain, negara menjadikan bisnis esek-esek itu sebagai peluang basah untuk mendatangkan “pajak”, baik keuntungan ekonomi ke beberapa gelintir orang maupun kas negara. Negara mengambil kesempatan dari PSK yang terperas atau tereksploitasi untuk membuka ruang masuknya atau bertambahnya PAD (Pendapatan Asli Daerah). Negara tak berani mengambil langkah represip untuk membongkar tuntas jaringan perdagangan perempuan ini. Negara lebih suka menyikapinya dengan “bisu” atau pasip, tak mau repot-repot berperang dengan kemaksiatan. Kemaksiatan dijadikannya sebagai bagian dari komoditi struktural yang absah dipilih.
Kalau sudah begitu, jelas Negara, yang direpresentasikan pada pemerintah daerah yang harus menanggung kesalahan berlapis, baik kepada PSK maupun masyarakat. Kesalahannya pada PSK terletak pada pola represi dan ambiguitas diskresi yang dikeluarkan oleh negara yang hanya melarang dan menindak PSK saat menjalankan “profesinya”. Sementara, kesalahan lainnya adalah berbentuk membiarkan masyarakat atau konsumen untuk ditulari atau dijadikan sasaran oleh pengidap AIDS, sehingga modus penularannya semakin “fantastis”. Negara (pemerintah) mulai harus berani menerapkan strategi politik penanggulangan atas industri atau bisnis esek-esek dengan cepat dan humanistik. Membiarkan akar masalah utamanya tak tersentuh, sama dengan mengobati penyakit kanker dengan obat masuk asing. Menggalakkan kampanye penanggulangan AIDS tanpa diikuti diskresi penanganan menyebarnya wabah komersialsasi dan liberalisasi seks bebas, hanya akan menuai hasil nihil.
posted by sebuah coretan kata @ 00.30  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
About Me

Name: sebuah coretan kata
Home:
About Me:
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.

Links
Powered by

Blogger Templates

BLOGGER